Sabtu, 19 Februari 2011

Skenario Hari Akhir

Malaikat: “Kini giliran hamba-Mu yang bernama ‘Fulan’, Tuhanku.”

Tuhan: “Bawa ia kehadapan-Ku! Lalu ceritakan pulalah sebagaimana yang telah diceritakan sebelumnya kepadamu.”

Malaikat: “Inilah hamba-Mu ini ya Rabb. Ketahuilah Al-‘Aliim, dia adalah salah satu hamba-Mu yang menerima ‘rapor’ akhiratnya dengan tangan kiri sesuai dengan apa yang telah ia lakukan selama ini untuk-Mu dari sekian banyak anak Adam yang menerimanya pula.”

Terbayang nanti jika suatu masa itu datang menghampiri. Entah apa yang harus dilakukan ketika pengadilan itu benar-benar terjadi. Memikirkan terkadang, “Ya Rabb jangan sampai itu terjadi” Tapi mau dikata apa? Hari kelak dimana masa itu datang memang akan benar-benar terjadi.

Terbayang nanti jika suatu masa itu datang menghampiri. Aku malu pada-Mu dan aku benar-benar takut kepada-Mu. Tapi, aku merindukan-Mu. Aku takut jika Engkau bertanya, tapi aku rindu jika Engkau datang menghampiri.

Ketika Yaumul Hisab itu datang dan terjadi. Apa yang kelak terjadi di sana lalu terbayang atas semua pertanggungjawabanku selama ini untuk-Mu.

***

Tuhan: “Inikah hamba-Ku ini sang ahli Neraka itu, karena ia telah menyia-nyiakan akalnya saat hidup di dunia, menyakiti-Ku di dunia bahkan mencampakan-Ku di dunia?”
Malaikat: “Iya, Rabb. Inilah hamba-Mu yang hina lagi nista itu. Engkau akan jatukan ke Neraka manakah hamba-Mu ini wahai Rabb?”
Tuhan: “Akulah Sang Maha Mengetahi juga Maha Kuasa atas segalanya! Bawa ia lebih dekat kepada-Ku! Akan kutanyakan beberapa hal yang tidak Aku sukai darinya!”
Malaikat: “Inilah ia, Rabb.”
Tuhan: “Apa pembelaanmu kepada-Ku yang telah engkau sakiti bahkan engkau campakan?”

Fulan: “...”

Tuhan: “Apa yang ingin kau belakan? Inginkah engkau kini membuang ‘waktu-Ku’? Masih banyak manusia dan jin yang harus Ku hisab!”

Fulan: “...”

Tuhan: “Dulu kau mencampakan-Ku! Apakah kini kau ingin membuat-Ku marah kembali?

Fulan: “Maaf, Rabb.”

Tuhan: “Aku meminta sepotong kata pembelaan, bukan kata maaf! Maka setujukah engkau Aku masukan ke kerak Jahannam? Baik, mungkin kau sulit untuk berucap pada Zat Mulia-Ku ini, maka akan kutanyakan beberapa hal kepadamu atas apa yang telah kau lakukan di dunia. Jawab atau Aku-lah Maha Kuasa!”


Tuhan: “Aku Maha Mengetahui, maka akulah yang Mengetahi Segalanya. Jawab! Engkaukah seorang muslim?”

Fulan: “Iya, Ar-Rahmaan.”

Tuhan: “Engkaukah seorang yang terdidik?”

Fulan: “Iya, Ar-Rahiim.”

Tuhan: “Engkaukah seorang yang kau akui sebagai seorang pementor?”

Fulan: “Iya, Al-Malik.”

Tuhan: “Engkaukah seorang yang kau akui sebagai seorang aktivis dakwah!?”

Fulan: “Iya, Al-Qudus.”

Tuhan: “Engkaukah seorang yang kau yakini memiliki binaan-binaan, memiliki ladang dakwah yang banyak, selalu disibukan dengan aktivitas dakwah, mementor, mengumbar untaian kata hikmah penuh makna, dan atau selalu menasihati orang lain dalam kebaikan? Itukah engkau yang kau yakini kalau itu adalah upayamu di dunia?

Fulan: “Iya, Tuhan.”

Tuhan: ”Engkaukah seorang yang kau yakini beriman, menegakan shalat, menunaikan sedekah, berucap baik, berprilaku baik, mengajak orang pada kebaikan, mengajak orang pada kesabaran?“

Fulan: “Iya, Tuhan.”

Tuhan: “Engkaukah seorang yang kau yakini selalu ber-tasbih, ber-tahmid, ber-tahlil, ber-takbir, beristigfar?”

Fulan: “Iya, Tuhan.”

Tuhan: “Itukah engkau yang kau yakini?”

Fulan: “Jika Engkau mengizinkan, Rabb.”

Tuhan:“Apakah itu? Engkaukah itu? Engkaukah seorang muslim hingga engkau lupa menyembah-Ku karena orientasimu adalah pujian manusia? Engkau riya! Engkau sum’ah!”

Tuhan: “Mana buktimu dimana engkau berkata demikian tapi engkau tak menyembah-Ku? Dari shalatmu? Sedekahmu? Amalan shalihmu?

Tuhan: “Shalatmu? Shalatmu tidak khusyuk! Kau banyak memikirkan segala keperluanmu setelah shalat, masalahmu kedepan dan pikiran-pikiran kotormu! Tidak tepat waktu! Bila menjadi imam kau lebih ingin terlihat berwibawa dan beriman! Merasa shalatmu itu adalah penolongmu, padahal kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya!”

Tuhan: “Sedekahmu? Hah, mana mungkin! Engkau pelit! Sulit mengulurkan tanganmu padahal hanya untuk saling berbagi! Rakus dengan segala hartamu yang padahal itu hanya sebagian keciiiiil dari nikmatku! Engkau bukan Sulaiman yang memiliki harta yang berlimpah! Engkau bukan Daud yang memiliki kerajaan yang makmur! Dan engkau pun bukan Abdurahman bin Auf yang jika ia membalikan batu niscaya emas kan ia temukan! Tapi engkau tak sedermawan mereka! Sadarlah! Hartamu kemarin pun sekarang tak kau bawa kehadapan-Ku kan?

Tuhan: “Apakah itu? Engkaukah itu? Engkaukah seorang yang terdidik, pementor, atau aktivis dakwah? Dusta! Ilmumu tak berguna! Tak kau lakukan hanya umbaran kata! Kau mementor demi terlihat beriman, terlihat berilmu di depan binaanmu! Engkau aktivis dakwah demi terlihat mulia, terlihat baik di mata orang! Engkau riya! Engkau sum’ah!”

Tuhan: “Mana buktimu dimana engkau berkata demikian padahal kau bukan orang yang berilmu? Engkau hanya pintar mengumbar untaian kata munafik untuk menutupi kebusukan dirimu! Apakah kau mengerjakan apa yang kau nasihatkan? Yang kau berikan dan yang kau tuliskan? Tahu Aku kau muka dua dan Aku tidak perlu semua itu!”

Tuhan: “Apakah itu? Engkaukah itu? Engkau yang selalu berdzikir? Mana buktimu mensucikan-Ku? Memuji-Ku? Mengesakan-Ku? Membesarkan-Ku? Atau meminta ampunan kepada-Ku? Dusta! Pembohong! Engkau riya! Engkau sum’ah!”

Fulan: “...”

Tuhan: “Cukup melihat muka hinamu! Pergilah kau dari hadapan-Ku!”

Fulan: ”...”

Tuhan: “Cukup! Wahai ‘para makhluk-Ku yang taat’! bawalah manusia hina ini ke dasar dari dasarnya Jahannam dan segeralah bawa ahli neraka ini jauh dari hadapan-Ku yang mulia!”
Malaikat: “Perintah-Mu, ya Rabb.”

Fulan: “Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! Aku mohon taubat atas segala semua kesalahanku pada-Mu Rabb! Engkaulah yang ku cinta dan itulah yang seharusnya ku lakukan sedari dulu! Laillahaila anta, subhanaka inni kuntum minadzalimiin...! Ya Rabb, ampunilah hamba, ciptakanlah dunia kembali niscaya hamba kan selalu beribadah kepada-Mu siang dan malam! Atau aku hanya menyesal telah Engkau ciptakan! Aku menyesal diciptakan dan ku berharap aku tak diciptakan, ya Rabb...!”

Tuhan: “Kalla! Sekali-kali tidak atas segala perbuatanmu! Itulah pengadilanmu maka apakah Aku menyesal menciptakanmu?”

Fulan: “Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!”

Azazil (Iblis): “Cukup! Bawalah anak Adam itu kehadapanku dan jauhkanlah ia dari hadapan Allah!”

***

Allahuakbar! Laillahaila anta, subhanaka inni kuntum minadz dzalimiin! Illa hilastullil firdausi ‘ala, wa ala ali naari jahiim, fa habbal lil taubatan wagfir junub, fa inaka ala ghafirul dzumbil adziim.

Allah Maha Besar! Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya hamba termasuk orang-orang yang dzalim! Ya Rabb, hamba-Mu ini bukan ahli Surga, namun tak sanggup pula menerima siksa Neraka, maka ampunilah dosa hamba, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Dosa Besar.


Bumi Allah, 21 Dzulhijjah 1429 H – 20 Agustus 2009 M
Annas Ta'limuddin Maulana

http://www.annasmaulana.co.cc/2011/02/skenario-hari-akhir.html

0 comments:

Poskan Komentar

Updates Via E-Mail

Terimakasih telah mengunjungi blog ini. Semoga semua ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Bermanfaat untuk Dunia dan Akhirat..

Jika ada saran dan masukannya atau ada yang ingin pembaca koreksi harap di kirim melalui page facebook kami

Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penyampaian kami di blog ini..

terimakasih