Senin, 13 Juni 2011

Kemurahan Allah SWT

Diriwayatkan bahwa ada seorang Majusi yang meminta pertolongan kepada Ibrahim a.s, namun beliau tidak mau menolongnya. 

Beliau bersabda, “Jika Engkau mau masuk islam, maka aku mau menolongmu.”
            
Lalu Allah mewahyukan kepada beliau, “Wahai Ibrahim, semenjak Sembilan puluh tahun Aku memberinya makanan sekalipun di kufur.”

Lalu Ibrahim a.s segera menyusul orang Majusi itu dan menyampaikan kesediaannya untuk membantu saat itu pula serta mengabarkan wahyu yang beliau terima dari Allah. Orang Majusi itu merasa heran terhadap kemurahan Allah, lalu dia pun masuk islam.

Iman, Tanda Allah Cinta

Sebagian kita menyangka bahwa harta adalah segalanya. Dengan harta pun semuanya makin mudah. Bersyukur memang jika kita berharta, apalagi jika kita dapat menyalurkan harta tersebut pada jalan kebaikan. Namun bagaimana jika kita luput dari dunia. Harta kita barangkali amblas, hilang, dirampas. Sebenarnya, itu pun patut kita syukuri jika Allah masih memberi kita iman.
Ingatlah keimanan itu begitu berharga karena iman hanya spesial untuk orang beriman. Iman hanya diberikan kepada hamba yang Allah pilih. Iman hanya terkhusus bagi siapa yang Allah cinta. Bedanya dengan harta, orang kafir pun bisa mendapatkan bagiannya.  Lihat saja jajaran orang kaya di dunia, mulai dari Biil Gates dan Roman Abramovich. Orang beriman dan orang yang sangat kufur sekali pun sama-sama diberi harta. Sedangkan bagaimana dengan iman? Iman hanya ada pada sisi orang beriman. Maka inilah yang patut kita sykuri. Meskipun dunia tidak kita dapat, kita harus tetap bersyukur masih ada sedikit harta yang Allah beri. Meskipun harta kita terbatas, masih ada iman yang begitu berharga yang masih kita rasakan nikmatnya.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ ، وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ
“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cinta maupun tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.”[1]
Syukurilah yang sedikit karena masih ada iman, nikmat tiada tara yang Allah beri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ
Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.”[2]
Iman begitu berharga. Jika para raja tahu nikmatnya iman di dada, pasti mereka akan mencabutnya. Para salaf mengatakan,
لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لَجَلِدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوْفِ
Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”[3]
Teruslah bersyukur, maka akan diberi tambahan nikmat. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".” (QS. Ibrahim: 7)
Sebenarnya kita sudah mendapatkan dunia seisinya saat kita diberi rasa aman, diberi kesehatan badan dan diberi nikmat makan oleh Allah. Dengan nikmat-nikmat yang terus kita dapat setiap harinya, maka meskipun kurang harta, masih tetap kita harus bersyukur karena dunia seisinya sebenarnya telah kita raih. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
Barangsiapa di antara kalian merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesehatan badan, dan diberi makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dia telah memiliki dunia seluruhnya.”[4]
Jadilah orang yang qonaah, selalu merasa cukup dengan nikmat yang Allah beri. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.”[5]
Iman dan takwa itu begitu berharga. Oleh karenanya, selalu mintalah pada Allah iman dan takwa. Meski hidup pas-pasan, jangan sampai iman ini digadaikan hanya karena sesuap nasi atau indomie. Mohonlah pada Allah, jangan sampai iman ini hilang di saat malaikat maut mencabut nyawa kita.  Iman dan takwa itulah tanda Allah cinta. Sedangkan harta belum tentu tanda Allah cinta pada hamba.
Ya Allah, anugerahkanlah pada kami iman, takwa dan sifat qonaah. Aamiin Yaa Mujibas Saailin.

Riyadh-KSA, close to the time of Maghrib, 11st Rajab 1432 H (12/06/2011)
Minggu, 12 Juni 2011

Tinggallah di sini dan azanlah untuk kami wahai Bilal!

Bilal bin Rabah, muazzin Rasulullah s.a.w. Orang pertama yang diangkat oleh baginda menjadi muazzin di Masjid Nabawi di al-Madinah al-Munawwarah. Bilal r.a. tetap setia melaksanakan tanggungjawab yang diamanahkan selama hampir 10 tahun.

Apa yang berlaku kepada Bilal selepas kewafatan kekaksihnya dan kekasih kita, Rasulullah s.a.w.? Mungkin tidak ramai yang tahu?

Bilal datang bertemu Abu Bakar r.a. dan berkata:
“Wahai Khalifah (pengganti) Rasulillah, sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda (maksudnya): “Amalan seseorang mukmin yang paling afdhal ialah berjihad di jalan Allah.”
Abu Bakar bertanya:
“Lantas, apa yang engkau mahu wahai Bilal?”
Bilal menjawab:
“Aku hendak bermurabatoh (berada di medan jihad) di jalan Allah sehingga aku mati!”
Abu Bakar bertanya:
“Kalau begitu, siapa yang akan azan untuk kami?”
Bilal menjawab, sedang air mata bergenang di kelopak matanya:
“Sesungguhnya aku tidak akan menjadi muazzin kepada sesiapapun selepas Rasulullah s.a.w.!”
Abu Bakar memujuk dengan berkata:
“Tinggallah di sini dan azanlah untuk kami wahai Bilal!”
Bilal membalas:
“Sekiranya engkau telah merdekakan aku dahulu supaya aku tunduk kepadamu, maka letakkanlah aku sebagaimana yang engkau mahu. Tetapi sekiranya engkau merdekakan aku dulu kerana Allah, maka biarkanlah aku untuk apa yang engkau merdekakan aku.”
Abu Bakar menjawab:
“Bahkan aku merdekakan engkau untuk Allah wahai Bilal!”

Maka Abu Bakar r.a. tiada pilihan kecuali membenarkan Bilal memilih jalannya untuk berjihad dan sentiasa berada di medan juang. Bilal berhijrah ke Sham. Di situlah beliau mengabdikan diri di medan jihad…

Salami isi hati yang dicurahkannya sendiri:
“Aku tidak tertanggung tinggal di Madinah selepas kewafatan Rasulullah s.a.w. “

Setiap kali dia cuba mengalunkan azan, apabila tiba pada “asyhadu anna Muhammadar-Rasulullah” kerongkongnya tercekik lalu dia akan menangis. Maka dia berangkat ke Sham bersama para mujahidin.

Selepas beberapa tahun berada di Sham, beliau melihat Rasulullah s.a.w. di dalam mimpinya. Baginda berkata kepada Bilal, “Kenapa begitu lama kamu menyepikan diri wahai Bilal? Belum tibakah masanya untuk kamu ziarahi kami?”

Bilal terjaga dari tidurnya. Hatinya sungguh sedih. Beliau segera berangkat ke Madinah dan terus menuju ke maqam Rasulullah s.a.w. Bilal menangis dan berguling-guling di situ sehingga Hasan dan Husain menghampirinya. Beliau memeluk dan mencium mereka berdua sepuas-puasnya. Kedua-duanya berkata kepada Bilal:
“Kami rindu untuk mendengar azanmu di waktu dinihari.”

Bilal naik ke atas sutuh (bahagian atas) masjid dan mula mengalunkan azannya yang amat dirindui oleh warga Madinah. Apabila Bilal mengalunkan “Allahu Akbar, Allah Akbar”, seluruh Madinah bergetar. Apabila tiba ungkapan “Asyhadu an la ilaha illa Allah”, getaran bertambah kuat. Dan apabila tiba ungkapan “asyhadu anna Muhammadar-Rasulullah”, wanita-wanita keluar dari bilik-bilik mereka. Sehingga diriwayatkan bahawa tidak ada hari yang paling banyak kaum lelaki dan wanita menangis lebih daripada hari itu…

Ketika Amirul-Mukminin Umar bin al-Khattab melawat Sham, kaum muslimin memintanya agar memujuk Bilal supaya azan untuk mereka untuk satu solat sahajapun cukuplah. Umar memanggil Bilal dan menyampaikan hasrat penduduk Sham. Tiba waktu solat, Bilal menaiki tempat azan lalu mengalunkannya. 

Maka menangislah para sahabat yang sempat bersama Rasulullah s.a.w. ketika Bilal menjadi muazzinnya. Mereka menangis seolah-olah mereka tidak pernah menangis sebelum ini dan selama-lamanya. Dan Umar r.a. adalah orang yang paling kuat menangis dalam kalangan mereka. 

Ketika Bilal hampir menghembuskan nafas terakhir, belaiu berkata kepada isterinya, Halah binti ‘Auf, saudara kepada Abdul Rahman bin ‘Auf: “Usah menangis! Esok kami akan bertemu dengan para kekaksih, Muhammad dan sahabat-sahabat…”






Selasa, 07 Juni 2011

Al-Husein ibn Mathir al-Asadi berkata,

"Jika Allah memudahkan perkara maka mudahlah ia,
Kekuatannya akan meleleh dan kerumitannya akan hancur.
Betapa banyak orang yang menginginkan sesuatu
namun tak juga mendapatkannya,
dan betapa banyak orang yang sudah putus asa
namun kemudian datang kegembiraan
Sungguh banyak orang ketakutan menjadi menakutkan
dan orang yang miskin menjadi kaya
banyak peristiwa yang pahit berubah manis
Mungkin dunia berubah di mana yang kaya berbalik menjadi fakir
dan yang fakir menjadi kaya
Sungguh banyak kita lihat orang yang hidup sengsara
namun tiba-tiba menjadi manusia yang bersih hidupnya,
Minggu, 05 Juni 2011

Inilah Dunia (3)

Masih ada yang menemani setiap hari. Allah swt. dan para malaikatnya yang selalu berada di sisi kita. Tak perlu risau jika kita kehilangan yang kita sayangi, sebab yang Maha Menyayangi ada di samping kita. Tak perlu risau jika cobaan menimpa, sebab Dia Maha Mengetahui keadaan kita. Yang kita perlu hanya berinteraksi kepada-Nya. Mari bersama kita bangun untuk melaksanakan shalat lalu berdzikir kepadanya. Mari kita berusaha untuk terus mengingat-Nya, meminta ampunan-Nya dan meminta pertolongan-Nya. Karena semua hal itulah hati kita kan menjadi tenang.

Aku tahu, aku sendiri masih banyak berbuat kesalahan, kemaksiatan. Tapi aku berusaha untuk menghilangkan dan menjauhinya, tidak sekedar berdiam diri di ruang hampa yang tak ada sinar yang masuk. Bagiku kalian adalah sahabat yang terbaik, lebih dari sekedar menghiburku di kala sedih, tapi juga memantapkan iman ini di kala bertemu.

Wahai sahabat, terimakasih, kalian telah menghiasi hati ini dengan canda tawa yang kalian berikan. Terimakasih Ya Rabb, Engkau telah memberikan karunia-Mu dan telah memberikan nikmat-Mu berupa hamba-hamba-Mu yang saling memberi, menasehati dan memnyayangi. Terimakasih…Alhamdulillah..

Kesenangan dunia memang sangat melalaikan. Merenggut waktu, merenggut jiwa. Semua yang telah kita usahakan untuk mencapai kesenangan akhirat berupa surga Allah swt. dapat langsung hilang dari hati kita karena kesenangan dunia ini. Terasa baik oleh kita, tapi kenyataannya adalah buruk untuk kita. Memang awalnya terasa baik, tapi akhirnya kelalaian yang kita dapat.

Kehidupan sekarangpun telah berkembang, teknologi telah maju, bersosialisasi makin mudah. Jika kita sadar, semua itu adalah cobaan. Allah mungkin sedang melihat bagaimana kita mengatasi ini. Pembunuhan, minuman keras, narkoba dll yang merusak moral manusia makin mudah dijumpai. Game online, Facebook, twitter dll yang melalaikan manusia makin mudah diakses.

Masa muda sulit, walaupun kelak kita dewasa dan tua nanti mungkin akan bertemu kesulitan yang lain. Banyak anak-anak muda sekarang yang terlihat biasa saja, “enjoy” dengan keadaan mereka. Padahal mungkin yang mereka sedang lakukan adalah hal yang “kurang bermanfaat”. Mari mencoba untuk merubah dari yang kurang bermanfaat menjadi bermanfaat.

Semua bisa kita putar balikan, bukan dihilangkan sarana tersebut, tetapi “dimodifikasi” atau kita ubah kegunaan sarana tersebut sebagai media dakwah. Jangan biarkan mereka mewarnai kita, tetapi biarkan kita mewarnai kita. Jadilah sebagai cahaya lilin yang tidak memandang siapapun untuk ia sinari.
Kamis, 02 Juni 2011

Abu Dahdaa, Tidak Khawatir dengan Sedekah Harta


Sebagian kita selalu merasa khawatir ketika menginfakkan harta kita ke jalan yang benar. Infak di sini bisa jadi merupakan nafkah wajib untuk anak dan istri, menunaikan zakat maal (harta) atau mengeluarkan harta untuk sedekah sunnah. Selalu khawatir dalam hati kalau-kalau harta itu berkurang. Secara kuantitas bisa jadi berkurang, namun ingatlah bahwa bisa jadi dengan harta yang kita keluarkan tadi akan membuat harta kita semakin barokah, bahkan boleh jadi Allah ganti di dunia dengan harta yang melimpah, atau kita dianugerahi sifat qona’ah (merasa cukup). Lebih dari itu, Allah memberi janji akan menggandakan amalan kebaikan kita di akhirat. Yang terakhir tentu kenikmatan yang luar biasa dibanding dengan nikmat dunia.

Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ
Barangsiapa memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (QS. Al Hadid: 11). ‘Umar bin Khottob mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah berinfaq di jalan Allah. Ada pula yang mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah memberi nafkah pada keluarga. Yang tepat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir bahwa yg dimaksudkan dengan ayat ini adalah berinfaq di jalan Allah secara umum (baik itu di jalan Allah atau menafkahi keluarga) dengan niat yg ikhlas dan tekad yg jujur, ini semua tercakup dalam ayat di atas.
Ayat di atas semisal dengan firman Allah Ta’ala,
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (QS. Al Baqarah: 245)
Suatu kisah yang bisa jadi pelajaran bagi kita seorang pengusaha agar jangan pernah khawatir mengeluarkan harta untuk nafkah wajib, zakat atau pun sedekah yang sunnah. Lihatlah kisah tentang sahabat Abud Dahdaa Al Anshori berikut.
‘Abdullah bin Mas’ud menceritakan bahwa tatkala turun ayat di atas (surat Al Hadid ayat 11), Abud Dahdaa Al Anshori mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah Allah menginginkan pinjaman dari kami?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab, “Betul, wahai Abud Dahdaa.”
Kemudian Abud Dahdaa pun berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah tanganmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyodorkan tangannya. Abud Dahdaa pun mengatakan, “Aku telah memberi pinjaman pada Rabbku kebunku. Kebun tersebut memiliki 600 pohon kurma.
Ummud Dahda, istri dari Abud Dahdaa bersama keluarganya berada di kebun tersebut, lalu Abud Dahdaa datang dan berkata, “Wahai Ummud Dahdaa!” “Iya,” jawab istrinya. Abud Dahdaa berkata, “Keluarlah dari kebun ini. Aku baru saja memberi pinjaman kebun ini pada Rabbku.” Dalam riwayat lain, Ummud Dahdaa menjawab, “Engkau telah beruntung dengan penjualanmu, wahai Abud Dahdaa.”
Ummu Dahda pun pergi dari kebun tadi, begitu pula anak-anaknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun terkagum dengan Abud Dahdaa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Begitu banyak tandan anggur dan harum-haruman untuk Abud Dahdaa di surga.” Dalam lafazh yang lain dikatakan, “Begitu banyak pohon kurma untuk Abu Dahdaa di surga. Akar dari tanaman tersebut adalah mutiara dan yaqut (sejenis batu mulia).” (Riwayat ini adalah riwayat yang shahih, dikeluarkan oleh Abdu bin Humaid dalam Muntakhob dan Ibnu Hibban dalam Mawarid Zhoma’an. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13/414-415)
Masya Allah … Adakah di antara kaum muslimin saat ini yang bisa memberi pinjaman di jalan Allah seperti ini?
Lihatlah betapa banyak harta yang dikeluarkan oleh Abud Dahdaa. Itu bukanlah investasi yang sedikit. Iya benar-benar yakin bahwa harta yang ia keluarkan tidak akan sia-sia. Karena barangsiapa yang memberi pinjaman pada Allah (artinya bersedekah di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan balasan dan ia akan memperoleh pahala yang banyak. Dan tentu kita masih ingat bersama bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2558, dari Abu Hurairah)
Tidak perlu khawatir dengan infak Anda karena Allah-lah Yang Maha Pemberi Rizki. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39) Lihatlah bagaimanakah penjelasan yang amat menarik dari Ibnu Katsir rahimahullah mengenai ayat ini. Beliau mengatakan, “Selama engkau menginfakkan sebagian hartamu pada jalan yang Allah perintahkan dan jalan yang dibolehkan, maka Allah-lah yang akan memberi ganti pada kalian di dunia, juga akan memberi ganti berupa pahala dan balasan di akhirat kelak.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11/293)
Semoga Allah memberikan kita anugerah dan berkah pada segala harta titipan-Nya yang kita investasikan di jalan Allah. (*)

Tulisan untuk Majalah Pengusaha Muslim Juni-Juli 2011
Prepared @ Riyadh-KSA, 1 Rajab 1432 H (02/06/2011)

Updates Via E-Mail

Terimakasih telah mengunjungi blog ini. Semoga semua ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Bermanfaat untuk Dunia dan Akhirat..

Jika ada saran dan masukannya atau ada yang ingin pembaca koreksi harap di kirim melalui page facebook kami

Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penyampaian kami di blog ini..

terimakasih