Kamis, 04 Agustus 2011

Sifat 'Ibadurrahman, Berlindung dari Siksa Neraka

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Sifat 'ibadurrahman, yaitu hamba Allah yang beriman adalah berlindung dari siksa neraka. Itulah yang mendorong seseorang itu untuk beramal agar terlindung dari siksa neraka. Ayat yang akan kita bahas kali ini menjadi dalil kelirunya keyakinan orang sufi bahwa tidak dikatakan ikhlas dalam beramal jika seseorang mengharap surga dan takut dari siksa neraka.
Allah Ta'ala berfirman,
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (65) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (66)
"Dan orang-orang yang berkata: "Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. " (QS. Al Furqan: 65-66)
Siksa yang Amat Pedih di Jahannam
Yang dimaksudkan dengan 'ghoroma' (غَرَامًا ) dalam ayat di atas adalah adzab yang kekal, demikian kata Ibnu Katsir rahimahullah (Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, 10: 321).
Ibnul Jauzi berkata bahwa 'ghoroma' (غَرَامًا ) ada lima pendapat dalam hal ini yang pendapat-pendapat tersebut hampir sama maknanya. Ghoroma berarti:
1. Selamanya (دائماً ). Demikian diriwayatkan dari Abu Sa'id Al Khudri.
2. Siksa yang menyakitkan (موجِعاً ), diriwayatkan oleh Adh Dhohak dari Ibnu 'Abbas.
3. Siksa yang melelahkan (مُلِحّاً ). Demikian dikatakan oleh Ibnu As Saib.
4. Siksa yang membinasakan (هلاكاً ). Demikian disebutkan oleh Abu 'Ubaidah.
5. Secara bahasa berarti siksa yang amat pedih. Demikian disebutkan oleh Az Zujaj. (Zaadul Masiir, 6: 102)
Jahannam Sejelek-Jelek Tempat Tinggal
Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا 
"Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman." Yang dimaksud ayat ini bahwasanya jahannam adalah sejelek-jelek tempat menetap. (Zaadul Masiir, 6: 102 dan Tafsir Al Jalalain, 365). Dapat kita katakan bahwa jahannam adalah sejelek-jelek tempat tinggal (Tafsir Ath Thobari, 17: 496-497).
Berlindung dari Siksa Neraka
Jahannam adalah di antara nama neraka. Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa sifat orang beriman ('ibadurrahman), mereka berlindung dari siksa neraka atau siksa jahannam. Dan ayat ini sekaligus bantahan pada keyakinan orang sufi yang nyatakan bahwa orang yang beramal karena ingin surga dan takut neraka adalah orang yang tidak ikhlas. Justru kita katakan bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang beramal demikian.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
وَطَلَبُ الْجَنَّةِ وَالِاسْتِعَاذَةِ مِنْ النَّارِ طَرِيقُ أَنْبِيَاءِ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَجَمِيعِ أَوْلِيَائِهِ السَّابِقِينَ الْمُقَرَّبِينَ وَأَصْحَابِ الْيَمِينِ
Meminta surga dan berlindung dari siksa neraka adalah jalan hidup para Nabi Allah, utusan Allah, seluruh wali Allah, ahli surga yang terdepan (as sabiqun al muqorrobun) dan ahli surga pertengahan (ash-habul yamin).” (Majmu' Al Fatawa, 10/701). Sebagai dalil penguat adalah berbagai dalil berikut ini.
Setelah menyebutkan berbagai kenikmatan di surga dalam surat Al Muthaffifin, Allah Ta'ala pun memerintah untuk berlomba-lomba meraihnya,
وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ 
Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. ” (QS. Al Muthaffifin: 26). Bagaimana mungkin dikatakan tidak ikhlas, sedangkan kita sendiri diperintahkan oleh Allah untuk berlomba-lomba meraih surga?!
Sifat orang beriman adalah beribadah dengan khouf (takut) dan roja' (harap). Allah Ta'ala berfirman,

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. ” (QS. Al Israa': 57)
Allah Ta'ala berfirman,
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191) رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (192) رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آَمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآَمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ (193) رَبَّنَا وَآَتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ (194) 
(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.   Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. ” (QS. Ali Imron: 191-194). Demikian sifat ulil albab berlindung dari siksa neraka.
Di antara yang dikatakan oleh orang sufi adalah perkataan, “Jika aku beribadah pada Allah karena mengharap surga-Nya dan karena takut akan siksa neraka-Nya, maka aku adalah pekerja yang jelek. Tetapi aku hanya ingin beribadah karena cinta dan rindu pada-Nya.” Di antara yang mengatakan seperti ini adalah Robi'ah Al Adawiyah. Padahal Allah menceritakan mengenai Asiyah, istri Fir'aun yang beriman meminta pada Allah rumah di surga. Allah Ta'ala berfirman,

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آَمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim. ” (QS. At Tahrim: 11). Padahal Asiyah lebih utama dari Robi'ah Al Adawiyah, namun ia pun masih meminta pada Allah surga.
Nabi Ibrahim 'alaihis salam pun meminta surga. Sebagaimana do'a Nabi Ibrahim  -kholilullah/ kekasih Allah-,
وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ (85) وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ (86) وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ
Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Asy Syu'ara: 85-87)
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pun meminta surga. Dari Abu Sholih, dari beberapa sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bertanya kepada seseorang, “Do'a apa yang engkau baca di dalam shalat?”
أَتَشَهَّدُ وَأَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ أَمَا إِنِّى لاَ أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ وَلاَ دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ
Aku membaca tahiyyat, lalu aku ucapkan 'Allahumma inni as-alukal jannah wa a'udzu bika minannar' (aku memohon pada-Mu surga dan aku berlindung dari siksa neraka). Aku sendiri tidak mengetahui kalau engkau mendengungkannya begitu pula Mu'adz”, jawab orang tersebut. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Kami sendiri memohon surga (atau berlindung dari neraka).” (HR. Abu Daud no. 792, Ibnu Majah no. 910, dan Ahmad (3/474). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Lalu adakah yang berani katakan bahwa nabinya sendiri tidak ikhlas?
Tanggapan dari Ibnu Taimiyah
Mengenai perkataan sebagian sufi,
لَمْ أَعْبُدْكَ شَوْقًا إلَى جَنَّتِكَ وَلَا خَوْفًا مِنْ نَارِكَ
Aku tidaklah beribadah pada-Mu karena menginginkan surga-Mu dan takut pada neraka-Mu”, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah memberikan jawaban,
“Perkataan ini muncul karena sangkaannya bahwa surga sekedar nama tempat yang akan diperoleh berbagai macam nikmat. Sedangkan neraka adalah nama tempat yang mana makhluk akan mendapat siksa di dalamnya. Ini termasuk mendeskreditkan dan meremehkan yang dilakukan oleh mereka-mereka karena salah paham dengan kenikmatan surga. Kenikmatan di surga adalah segala sesuatu yang dijanjikan kepada wali-wali Allah dan juga termasuk kenikmatan karena melihat Allah. Yang terakhir ini juga termasuk kenikmatan di surga. Oleh karenanya, makhluk Allah yang paling mulia selalu meminta surga pada Allah dan selalu berlindung dari siksa neraka.” (Majmu' Al Fatawa, 10/240-241)
Melihat wajah Allah di akhirat kelak, itulah kenikmatan yang paling besar dan istimewa dari kenikmatan lainnya. Dari Shuhaib, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
« إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ - قَالَ - يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ - قَالَ - فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ ».
Jika penduduk surga memasuki surga, Allah Ta'ala pun mengatakan pada mereka, “Apakah kalian ingin sesuatu sebagai tambahan untuk kalian?” “Bukankah engkau telah membuat wajah kami menjadi berseri, telah memasukkan kami ke dalam surga dan membebaskan kami dari siksa neraka?”, tanya penduduk surga tadi. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Allah pun membuka hijab (tirai). Maka mereka tidak pernah diberi nikmat yang begitu mereka suka dibanding dengan nikmat melihat wajah Rabb mereka 'azza wa jalla.” (HR. Muslim no. 181)
Kalimat Simpulan
Yang namanya ikhlas adalah seseorang beramal dengan mengharap segala apa yang ada di sisi Allah, yaitu mengharap surga dengan segala kenikmatannya (baik bidadari, berbagai buah, sungai di surga, rumah di surga, dsb), termasuk pula dalam hal ini adalah ingin melihat Allah di akhirat kelak. Begitu pula yang namanya ikhlas adalah seseorang beribadah karena takut akan siksa neraka. Inilah yang namanya ikhlas.
Jika seseorang tidak memiliki harapan untuk meraih surga dan takut akan neraka, maka semangatnya dalam beramalnya pun jadi lemah. Namun jika seseorang dalam beramal selalu ingin mengharapkan surga dan takut akan siksa neraka, maka ia pun akan semakin semangat untuk beramal dan usahanya pun akan ia maksimalkan.
Demikian bahasan sederhana mengenai tafsiran tentang sifat 'ibadurrahman. Sifat lainnya akan dilanjutkan pada bahasan berikutnya dengan izin Allah.
Wallahu waliyyut taufiq.

Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat.

Panggang-Gunung Kidul, 3 Ramadhan 1432 H (03/08/2011)
www.rumaysho.com
Minggu, 03 Juli 2011

Inilah Dunia (4)

Mari gunakan masa muda ini untuk hal-hal yang bermanfaat agar di masa tua nanti kita  tidak menyesal. Sibukkan dengan hal yang bermanfaat, yang menambah wawasan, ilmu serta iman kita.

Memang sulit diawal, tetapi itulah yang dinamakan perjuangan. Aku pun pernah mengalami saat-saat seperti itu dan mungkin akan bertemu kembali. Tahan keinginan buruk kita, tahan hawa nafsu kita. Paksa diri ini untuk melakukan hal yang terbaik. Bagiku selama diri kita belum melakukan yang terhitung baik, itu namanya belum kita paksa. Paksa bagiku adalah sampai kita berhasil melakukan hal tersebut.

Baca buku, artikel, majalah dll. yang dapat menambah wawasan kita. Memaksa diri ini memang tidak mudah. Oleh karena itu tambah ilmu wawasan agar kita tahu manfaat serta akibat dari aktivitas yang kita jalani. Bukankah jika kita tahu manfaat dari yang kita jalani akan menjadi suatu dorongan untuk berbuat yang lebih baik dari itu? Yang terakhir, jangan lupa berdo’a kepada Allah swt. karena semua hal yang kita lakukan tidak akan membuahkan hasil jika kita tidak di ridhoi-Nya.

18.  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
( Al-Hasyr : 18 )

Semua telah terjadi, berbagai peristiwa telah dijalani. Senyum dan tawa selalu menghiasi kehidupan ini. Memang begitu indah, begitu tentram. Tidak bisa dibayangkan pada  masa-masa dahulu. Ingin merasakan kehangatan duduk di samping Rasulullah saw. Senyum bersama, tertawa bersama. Ingin sekali melihat senyummu wahai Rasulullah. Senyummu yang selalu menghiasi perjuanganmu, perjuangan para sahabatmu. Kau jauh dari perhiasan dunia, selalu beribadah serta berdo’a untuk umatmu ini.

Semua telah tersedia, agama yang sempurna, teladan yang paling baik budi pekertinya dan kitab Al-Qur’an sebagai petunjuk jalan hidup ini. Terkadang memang sulit mempercayai yang telah terjadi di dunia ini, tapi inilah yang sebenarnya, yang telah dituliskan oleh Allah swt. untuk perjalan hidup kita. Kita harus  Ridho atas segala keputusan-Nya untuk kita.

Semua masih ada, hamparan tanah yang luas, yang menghiasi bumi ini. Udara segar yang memenuhi hari-hari kita. Bunga-bunga yang menampakkan keindahannya serta matahari dan rembulan yang selalu menerangi setiap langkah kita.

Terasa hangat.., padahal hanya membayangkan. Berada di sisinya, di samping Rasulullah. Oleh karena itu inilah jalan yang ku tempuh, jalan yang memang terasa berat dijalani. Inilah waktunya, waktu kita bersama.
Kawan, jika terdapat masalah antara kita, aku mau meminta maaf kepada kalian. Ku harap kalian  ingin memaafkan orang yang kecil ini.

Sahabat, kebahagiaan, senyuman, ketenangan tak akan lepas dari diri kita jika kita terus mengingat Nabi besar kita. Tebarkan kebahagiaanmu, tebarkan senyumanmu, tebarkan ketenanganmu kepada sahabat-sahabat kita. Karena kelak, kitapun akan mendapat hal yang sama nantinya.

Sahabat, jangan tertipu oleh kesenangan dunia. Kesenangan yang terkadang kita tidak tahu bahwa kesenangan itu adalah salah. Kesenangan yang dapat membawa kita kepada pintu kelalaian, pintu kejelekan.
Sahabat, mari kita muhasabah diri. Apakah yang telah kita lakukan dan kita terima adalah baik untuk kita atau tidak. Asalkan kalian tahu, para orang-orang terdahulu yang membuat banyak sejarah untuk kemajuan islam melakukan hal yang sama.

Sahabat, ibadah yang lebih baik adalah yang sedikit tapi terus-menerus, bukan yang banyak tetapi hanya dilakukan di waktu tertentu.

Hmm… engkau bahagia akupun bahagia. Kita bertemu karena Allah swt. dan juga berpisah karena Allah swt. Semua telah tertulis dan Allah swt. akan menjalankan ketetapannya itu.

Dalam menjalani perjalanan hidup tak usah risau. Semua yang telah Allah swt kehendaki pasti terjadi, itu sudah cukup menjadi pegangan kita. Percuma sedih, karena hanya dapat melalaikan kita. Bertemanlah dengan sahabat yang baik dan bertutur katalah yang baik. Maafkanlah sahabat kita yang berbuat salah, percuma kita marah atau dendam kalau menjadikan kita resah di kehidupan ini. Jangan terlalu lama melamun karena itu dapat menyia-nyiakan waktu. Ingatlah, dunia ini hanya sementara. Semua yang ada pada genggaman kita akan meninggalkan kita atau sebaliknya, kita yang meninggalkan yang ada pada genggaman kita.
 

Buah dari mengikuti kebaikan dengan kebaikan lainnya

Saudaraku inilah di antara tanda kebaikan kita diterima, yaitu kebaikan tersebut berbuah pada kebaikan selanjutnya. Jika kita mengerjakan shalat, maka itu pun membuahkan kita rutin mengerjakannya dan menjauhi kemungkaran. Jika kita shalat malam, maka tanda diterimanya kebaikan tersebut adalah jika kita berusaha terus untuk rutin shalat malam. Jika kita telah berhaji, maka itu membuahkan kita gemar menjaga shalat wajib, shalat sunnah, rajin berderma dan melakukan segala kebaikan lainnya. Sebaliknya, jika kebaikan yang kita lakukan malah berbuah kejelekan, maka itu tanda kebaikan sebelumnya itu bermasalah.

Jika Allah subhanahu wa ta’ala menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada amalan sholih selanjutnya. Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf,
مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim). Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf lainnya, Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan. (Latho-if Al Ma’arif)
Walaupun singkat faedah di siang ini, namun semoga semakin memudahkan kita untuk terus istiqomah dalam beramal baik. Kunci utama agar terus bisa beramal baik adalah tawakkal dan banyak memohon doa pada Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3). Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakkal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka. (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam)
Ingatlah pula sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ
Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain do’a.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad. Hasan)
Dengan tawakkal dan doa, moga Allah mudahkan kita kontinu dalam beramal baik sepanjang hayat. Wallahu waliyyut taufiq.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Saat istirahat di Kota Gede-Jogja, 1st Sya’ban 1432 H (03/07/2011)

Updates Via E-Mail

Terimakasih telah mengunjungi blog ini. Semoga semua ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Bermanfaat untuk Dunia dan Akhirat..

Jika ada saran dan masukannya atau ada yang ingin pembaca koreksi harap di kirim melalui page facebook kami

Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penyampaian kami di blog ini..

terimakasih