Jumat, 07 Oktober 2011

Karena Ikatan Kita... Istimewa



dakwatuna.com - Sebut saja A dan B. Dua orang sahabat yang sejak kecil sering bercanda bersama, menangis bersama, bahkan melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi pun selalu bersama. Kecocokan antara keduanya telah terbingkai dalam sebuah jalinan persaudaraan yang unik, yang tak mudah kita temui di kebanyakan episode persaudaraan yang lain.
Suatu ketika, di sebuah serambi masjid kampus, mereka sepakat untuk saling mengoreksi dan mengevaluasi dir mereka masing-masing. Si A harus mengevaluasi kekurangan dan kelebihan si B. Begitu pun sebaliknya, si B juga harus bisa menyebutkan kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri si A. Mereka bersepakat bahwa beberapa hari lagi akan bertemu di tempat yang sama untuk menyampaikan hasil evaluasi yang mereka siapkan mulai dari pertemuan itu. Hingga tibalah hari dimana mereka menyampaikan boring evaluasinya.
“A, silakan kamu mulai bacakan evaluasimu terhadap tingkahku selama ini.” Ucap si A mengawali pembicaraan.
“Tidak B, kamu saja yang memulainya. Sepertinya tulisanmu lebih banyak. Dan sepertinya kamu lebih siap untuk menyampaikannya lebih dahulu.”
“Hmm, baiklah. Aku yang akan memulainya.”
“Silakan B, aku akan mendengarkan.”
“Tapi,,, kamu janji ya tidak akan marah padaku setelah kubacakan penilaianku padamu?”
“Baiklah, aku tidak akan marah. Sampaikan saja sejujurnya padaku.”
“Err, kamu mau mendengar yang mana dulu? Tentang kelebihanmu atau kekuranganmu?”
“Kekuranganku saja dulu.”
“A, kamu itu orangnya egois, maunya selalu diperhatikan, tidak peka sama lingkungan, tak pernah mau terus terang tentang masalah yang menimpamu. Kamu itu selalu menyalahkan orang lain ketika ada masalah yang menimpamu, kamu itu……”
“maaf B, maafkan aku bila selama ini telah sering menyakitimu.” Ujar si A memotong perkataan si B yang sedang membacakan evaluasinya.
“Tak apa A, maaf juga bila kamu telah tersinggung mendengarkan evaluasiku ini. Tapi, aku masih belum selesai membacakannya. Apakah harus ku hentikan?”
“Tidak B, lanjutkan saja. Aku akan terus mendengarkannya.” Kata si A sambil menyeka pipinya yang mulai meneteskan air mata.
“Kamu itu, maaf…. Pemalas, tergantung pada orang tua, selalu bilang aku seperti anak-anak. Dan kamu itu plin-plan….” Sejenak B menatap wajah saudaranya. Binar matanya mulai terbasahi air mata yang mulai menetes melintasi pipinya.
“A, ada apa? Apa ku menyakitimu? Kalau begitu aku hentikan saja evaluasiku. Aku tak ingin sahabatku bersedih seperti ini.”
“Tidak apa B, terus lanjutkan saja. Aku akan terus mendengarkan nasihat dari sahabat terbaik ku.”
“Aku tak sanggup melihatmu bersedih seperti ini. Biar ku hentikan saja ya.”
“Tolong B, lanjutkan saja. Aku tidak apa-apa sahabatku. Aku hanya ingin mengetahui dari lisanmu mengenai kesalahan-kesalahanku padamu. Apakah kekuranganku masih banyak?” ujar A sambil menahan tangis yang hampir meledak “Maaf A, masih ada tiga halaman lagi. Baiklah, aku lanjutkan.” Si B pun melanjutkan membaca daftar kekurangan si a yang telah ia tuliskan.
Selanjutnya, si B membacakan daftar kelebihan yang dimiliki si A.
“A, bagiku kamu tetap istimewa, kamu adalah temanku yang paling cerdas dan kamu sering mengingatkanku bila ku tersalah.” Si B membacakan daftar kelebihan si A yang hanya tiga paragraph tersebut.
“Sudah A, aku sudah membacakan semuanya. Selanjutnya giliranmu.”
Sambil berusaha senyum, si A membacakan daftar kelebihan dan kekurangan si B.
“Sekarang aku akan membacakan kelebihanmu dulu saja ya B.”
“Baik A, kalau kamu berkenan, silakan.”
“Kamu itu kreatif, cekatan, suka menolong, penuh ide brilian, konsisten, tak mengharap imbalan duniawi, kata-katamu selalu terjaga, dan selalu senyum tatkala menyapa orang-orang di sekitarmu….” Ucap si A panjang lebar hingga tiga halaman A4 ia selesai bacakan.
“sudah B, aku sudah selesai membacakan semua yang kutulis.”
“kekuranganku?”
“Tidak, tidak ada…. Aku sudah rampung membaca semua evaluasiku padamu saudaraku.”
“Apa maksudmu? Apa saja kekuranganku dan tingkah burukku yang telah menyakitimu selama aku menjadi sahabatmu A? coba sebutkan saja, aku tidak akan marah.”
“Aku tak bisa menuliskan apapun pada lembar kekuranganmu A. bagiku, kekuranganmu telah mengajarkanmu untuk lebih dewasa dan bijak dalam mengambil setiap keputusan. Dan semua itu telah terbingkai indah dalam memori hidupku sahabatku. Oleh karena itu tak ada yang bisa kubacakan mengenai kekuranganmu.”
“Duhai sahabatku, maafkan aku. Sungguh engkau adalah sahabat terbaik yang pernah kutemui. Engkau adalah mutiara yang selalu menjadi perhiasan dalam hidupku, menghiasi setiap lembaran perjalanan kehidupan yang penuh kejadian mengharu biru ini.”
Dan kini, serambi masjid kampus itu pun menjadi saksi, tetesan air mata yang mengalir karena sebuah ikatan yang begitu berharga. Ikatan ukhuwah.
*****
Ah, rasanya aku belum bisa menjadi seperti A yang mampu menangkap setiap aura kebaikan dari sahabatnya. Menjadikan segala kekurangan sahabatnya sebagai pelecut semangat untuk mendewasakan diri tanpa mengungkit-ngungkit apalagi membicarakan kekurangan sahabatnya pada orang lain. Kita, pasti pernah punya salah. Bahkan sering kita lakukan pada orang lain. Pada sahabat kita. Saat ego masih tersimpan dalam hati, saat persepsi menutupi mata hati bahwa orang lain harus menjadi yang sempurna di hadapan kita, tanpa cacat, tanpa kekurangan. Maka, sesungguhnya kita telah membutakan mata hati kita untuk memberikan permaafan pada orang lain. Menganggap setiap kesalahan sahabat kita adalah dosa besar yang takkan termaafkan dan telah menutup pintu maaf bagi setiap kesalahan mereka.
Sahabatku, Saudaraku… ikatan kita bukan sembarang ikatan. Kita diikat bukan karena kesamaan kampus, kesamaan asal daerah, kesamaan jurusan, kesamaan organisasi. Akan tetapi kita diikat atas dasar cinta yang terbingkai dalam ukhuwah. Cinta pada Allah dan ukhuwah yang menggelora mempersatukan setiap keping-keping hati yang tersebar di seluruh penjuru bumi-Nya ini.
Sahabatku, Saudaraku… ikatan kita adalah ikatan yang istimewa. Yang telah dipertautkan oleh Yang Maha Istimewa, yang selalu kita ucapkan doa-doa rabithah dalam waktu istimewa kita, di sepertiga malam terakhir sambil berdoa, Ya Allah….Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu ,berhimpun dalam naungan cintaMu, bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan, menegakkan syariat dalam kehidupan, Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya, terangilah dengan cahayaMu, yang tiada pernah padam, Ya Rabbi bimbinglah kami. Lapangkanlah dada kami, dengan karunia iman dan indahnya tawakal padaMu, hidupkan dengan ma’rifatMu, matikan dalam syahid di jalan Mu, Engkaulah pelindung dan pembela…..


Sikap Menawan Da'i Buta

Betapa banyak da’i yang kedua bibirnya tidak perlu berucap sepatah kata pun akan tetapi dengan kondisi dan keistiqamahannya dapat membuat orang mendapatkan hidayah.

Berikut sikap di mana seorang kafir mendapatkan hidayah dan masuk Islam hanya gara-gara akhlak seorang da’i yang buta.
Adalah seorang laki-laki Jerman yang kemudian mengumumkan keislamannya menceritakan, awal pertama ia mengenal Islam kembali kepada hari-hari di masa mudanya ketika ia melakukan wisata ke Albania di masa liburan sekolah.
Ketika sedang berjalan di salah satu jalan sempit di sana, ia bertabrakan dengan seorang laki-laki. Ketika menyadari dan meminta ma’af, barulah ia tahu bahwa laki-laki yang ditabraknya itu seorang yang buta. Orang buta itu tidak mengerti arti permintaan ma’afnya tersebut karena ia tidak memahami bahasa komunikasinya. Sekali pun begitu, orang buta ini ngotot untuk memegang tangan laki-laki yang telah menabraknya dan mengajaknya berjalan menuju ke rumahnya. Di sana, ia menghidangkan makanan seadanya kepada teman yang baru dikenalnya di tengah jalan.
Saudara kita semuslim dari Jerman mengisahkan, “Kemudian aku melihat laki-laki buta itu melakukan beberapa gerakan yang gambarannya terus melekat di kepalaku, yang akhirnya aku ketahui bahwa itu adalah shalatnya orang-orang Islam. Sikap laki-laki itu mampu menguasai pikiranku untuk beberapa waktu. Ia tidak ngotot untuk mengajakku menemaninya menuju rumahnya namun kemudian ia menghormatiku tanpa imbalan apa pun dan tanpa perlu mengenaliku terlebih dahulu padahal ia tidak memahami bahasaku. Apa yang ia lakukan barusan di hadapanku.? Apa arti gerakan-gerakan itu.? Ketika aku melihat ada bayang-bayang laki-laki itu sedang melakukan gerakan itu, hal ini mendorongku untuk mengenali mereka dan prinsip ajaran agama mereka. Sungguh perjalanan yang panjang hingga akhirnya membuatku masuk Islam. Peristiwa itu adalah benang pertamanya ke arah sana.”
Komentar Syaikh Dr. ‘Umar Sulaiman al-Asyqar:
Pelajaran dan wejangan yang dapat diambil dari kisah ini bagi seorang Muslim, khususnya bagi seorang Da’i adalah bahwa ucapan yang haq (benar) terkadang bisa berbuah di hati pendengarnya walalu pun setelah mengalami proses yang lama dan keistiqamahan di atas al-Haq dan pengamalannya terkadang juga berpengaruh pada diri orang lain dan dapat menggiring mereka kepada hidayah Allah. Dengan sikap seperti inilah, Islam akan tersiar di hati dan seluruh dunia berkat nur yang Allah titipkan di dalamnya. (Mawaaqif Dzaat ‘Ibar karya Dr. ‘Umar Sulaiman al-Asyqar, hal.86, penerbit Daar an-Nafaa’is)
Kisah di atas menunjukkan bahwa diterimanya dakwah Islam, bukanlah dengan hanya bermodalkan ucapan lisan yang memukau, atau harta yang melimpah. Akhlak luhur dan mulia sebenarnya adalah modal utama untuk membuat orang tertarik pada dakwah.
إِنَّكُمْ لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَسَعُهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْن الْخُلُقِ
Sesungguhnya kalian tidak dapat menarik hati orang dengan harta kalian. Kalian hanya dapat membuat hati mereka tertarik dengan wajah berseri dan akhlak luhur kalian.”
(HR. Al Bazzar dalam musnadnya dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lainnya)
Jika kita selalu bersikap jujur dalam jual beli atau yang lainnya, bermuka manis kepada kawan, tetangga, dan orang terdekat kita, itu akan membuat mereka tertarik sendirinya pada Islam yang kita pegang. Semoga Allah memberi taufik pada kita agar bisa memiliki akhlak yang luhur.
Wallahu waliyyut taufiq.

@ Sabic Lab. KSU, Riyadh KSA
7 Dzulqo’dah 1432 H (05/10/2011)
Selasa, 06 September 2011

Mario Teguh Quotes

Segera lakukan yang harus Anda lakukan. Menua itu pasti, tapi mendewasa adalah hasil ketegasan.


- Mario Teguh Quotes -


Jadikanlah dirimu sebab bagi kebahagiaan sesamamu, lalu perhatikan apa yang terjadi!


- Mario Teguh Quotes -

Mulailah dengan lebih banyak berbicara dengan Tuhan.


- Mario Teguh Quotes -
Rabu, 31 Agustus 2011

Ya Allah, TerimalahAmalan Kami di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan akan berakhir.
Bulan penuh barokah akan meninggalkan kita.
Tidak ada yang yakin bisa bertemu dengan Ramadhan berikutnya.
Tidak ada yang yakin bisa dijumpakan lagi dengan bulan Al Qur’an.
Tidak ada yang yakin bisa bersua kembali dengan bulan yang begitu mudah untuk beramal.
Lihatlah bagaimanakah para salaf selalu berdo’a selama enam bulan untuk diperjumpakan kembali dengan bulan Ramadhan.
Mereka pun berdo’a di enam bulan lainnya agar amalan-amalan mereka diterima.[1]
Itulah kekhawatiran para salaf.
‘Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Mereka para salaf begitu berharap agar amalan-amalan mereka diterima daripada banyak beramal.
Bukankah engkau mendengar firman Allah Ta’ala,
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma-idah: 27)”
Dari Fudholah bin ‘Ubaid, beliau mengatakan, “Seandainya aku mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji saja, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Ma-idah: 27)”
Ibnu Diinar mengatakan, “Tidak diterimanya amalan lebih ku khawatirkan daripada banyak beramal.”
Abdul Aziz bin Abi Rowwad berkata, “Saya menemukan para salaf begitu semangat untuk melakukan amalan sholih. Apabila telah melakukannya, mereka merasa khawatir apakah amalan mereka diterima ataukah tidak.”
‘Umar bin ‘Abdul Aziz berkata tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fithri,
“Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari.
Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya.
Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima.
Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri.
Dikatakan  kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.”
Mereka malah mengatakan, “Kalian benar.
Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”
Itulah kekhawatiran para salaf.
Mereka begitu khawatir kalau-kalau amalannya tidak diterima.
Namun berbeda dengan kita yang amalannya begitu sedikit dan sangat jauh dari amalan para salaf. Kita begitu “pede” dan yakin dengan diterimanya amalan kita.
Sungguh, teramatlah jauh kita dengan mereka.[2]

Keadaan seorang hamba di akhir Ramadhan, seharusnya penuh ampunan.
Az Zuhri berkata, “Ketika hari raya Idul Fithri, banyak manusia yang akan keluar menuju lapangan tempat pelaksanaan shalat ‘ied, Allah pun akan menyaksikan mereka.
Allah pun berfirman, “Wahai hambaku, puasa kalian adalah untuk-Ku, shalat-shalat kalian di bulan Ramadhan adalah untuk-Ku, kembalilah kalian dalam keadaan mendapatkan ampunan-Ku.”
Ulama salaf lainnya mengatakan kepada sebagian saudaranya ketika melaksanakan shalat ‘ied di tanah lapang,
“Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.”[3]
Qotadah mengatakan, “Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain ia pun akan sulit diampuni.”[4]
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Tatkala semakin banyak pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapati pengampunan tersebut, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan yang banyak.”[5]

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd.
Di penghujung bulan Ramadhan ini, hanyalah ampunan dan pembebasan dari siksa neraka yang kami harap-harap dari Allah yang Maha Pengampun.
Kami pun berharap semoga Allah menerima amalan kita semua di bulan Ramadhan, walaupun kami rasa amalan kami begitu sedikit dan begitu banyak kekurangan di dalamnya.

Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian).
Semoga Allah menjadi kita insan yang istiqomah dalam menjalankan ibadah selepas bulan Ramadhan.

Selamat ‘Idul Fithri 1432 H
Muhammad Abduh Tuasikal dan Keluarga
30 Ramadhan 1432 H
Di posting kembali oleh : qalam muslim



[1] Lihat Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 369
[2] Lihat Lathoif Al Ma’arif, 368-369.
[3] Lathoif Al Ma’arif, 366.
[4] Lathoif Al Ma’arif, 370-371.
[5] Lathoif Al Ma’arif, 371.
Senin, 29 Agustus 2011

Inilah Dunia (5)


Inilah kehidupan, tempat yang sangat indah, tapi tak kekal. Inilah aku, inilah saya. Makhluk yang berjuang menjalani hidup yang gemerlap ini. Merasa bahagia, sudah terbiasa, setiap hari ku bahagia mengingat-Nya. Merasa sedih, sudah terbiasa, melihat hati yang belum kunjung membaik.

Selalu saja ada suatu penghargaan yang kita banggakan. Padahal itu bersifat sementara dan dapat hilang serta direbut oleh orang lain. Aku mengerti kenapa ulama-ulama terdahulu tidak merasa bangga dengan ilmunya, ya.. mungkin bagi mereka, mereka belum mendapatkan harapan mereka yang sebenaranya. Bertemu dengan-Nya, berada di sisi-Nya.

Begitu pandai dunia menipu kita. Tetapi Alah swt tetap percaya kepada kita bahwa kita akan selalu mengingatnya. Jika kita tahu, sudah biasa Alah memberikan nikmat kepada hamba-hambanya yang taat kepada-Nya. Tetapi apakah biasa bahwa Allah tetap memberikan kenikmatan kepada yang durhaka kepada-Nya..?. Allah begitu sabar, Allah begitu yakin dan Allah begitu percaya kepada kita, bahwa kita akan mengingat-Nya kembali dan menyebutkan-Nya di bibir kita berupa ibadah dan dzikrullah.

Seharusnya kita malu, seharusnya kita bangga karena masih dan selalu diberi kepercayaan oleh yang menciptakan kita. Ingat kawan Dia masih menunggu, Dia masih menanti, Dia masih percaya bahwa di dalam hati kita masih ada cahaya yang akan menyinari hati dan tubuh kita dari kegelapan dunia..
Kita tidak hidup di zaman yang sulit, bahkan semua peralatan sudah canggih. Sudah banyak yang serba instan dan tidak perlu sudah payah untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi di sinilah masalahnya, kita terlalu terlena dengan kondisi ini.

Para nabi-nabi, sahabat-sahabatnya, ulama-ulama terdahulu, mereka dapat kokoh dalah prinsip mereka karena mereka usaha, tidak kenal lelah. Jikalau semua sudah instan, lalu apakah mendapatkan surga itu harus instan juga..?. Tidak.. semua mempunyai proses dan di sinilah Allah selalu menanti hamba-hamba-Nya untuk melalui jalan yang lurus, jalan yang diRahmati-Nya.

Hatimu adalah pengontrol jiwamu. Semua di kehidupan ini adalah bagaimana caranya kita mengontrol hati kita. Jika kita salah dalam mengntrol hati kita maka jiwa kitapun akan ikut salah. Jika hati kotor, jiwapun akan kotor dan jika hati kita bersih maka jiwapun akan bersih. Hati adalah tubuh kita dan jiwa adalah cermin kita. Jadi kesimpulannya, hati adalah seluruh tubuh kita dan jiwa adalah cermin yang menampakkan apa yang ia pantulkan. Ya benar.. tergantung yang dipantulkan.., yaitu hati kita sendiri..

Mencoba berbuat baik terkadang memang terasa sulit. Ada-ada saja yang menghalangi. Tapi inilah kehidupan, bagaimana kita bereaksi akan semua hal itu. Rasulullah saw saja tidak hanya diam untuk berda’wah. Beliau terus berusaha, karena beliau tahu semua tak akan jatuh dari langit secara gratis.
Inilah perjalanan hidup. Akupun pernah merasakan bagaimana terus melakukan kesalahan yang ketika itu dianggap enteng, tetapi sekarang merupakan kesalahan yang fatal. Tetapi bukankah juga percuma hanya melihat kebelakang dan menyesalinya tetapi hanya berdiam diri. Menyesali itu baik, tapi jangan kita keluarkan dengan kata-kata. Keluarkan penyesalan itu dengan gerakan, dengan ketaatan.

Semua orang mempunyai perjalan hidupnya masing-masing. Hmm… terkadang memang resah kalau memikirkan perbedaan pendapat diantara kita. Apalagi jika itu adalah seorang sahabat terdekat kita. Salah satu yang selalu membuat hati tenang adalah kesadaran bahwa semua telah diatur dan telah ditetapkan. Maksud perbedaan pendapat di sini adalah “terkadang kita merasa berbeda jalan yang kita ambil dengan jalan yang sahabat kita ambil.” Tenang saja semua bukan kita yang mengatur. Semua telah Allah swt atur. Maka bersabarlah

Ya.. itulah… “ itulah kehidupan “…
Rabu, 10 Agustus 2011

Doa tidak diterima?

Doa adalah ibadah paling afdhal, cara seorang hamba berhubung dengan Tuhannya Yang Maha Pencipta, Yang Menyahut seruan dan Memenuhi semua keperluan makhluk-Nya. Dia-lah tempat sekelian makhluk-Nya meminta. “Sekalian makhluk yang ada di langit dan di bumi sentiasa berhajat dan memohon kepadaNya. Tiap-tiap masa Ia di dalam urusan (mencipta dan mentadbirkan makhluk-makhlukNya)!” (Maksud Ar-Rahman:29)


Dia perintahkan hamba-Nya berdoa dan Dia berjanji akan memakbulkannya. Dia sangat murka kepada hamba yang enggan berdoa dan menganggap mereka sebagai orang yang sombong. “Dan Tuhan kamu berfirman: “Berdoalah kamu kepadaKu nescaya Aku perkenankan doa permohonan kamu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong takbur daripada beribadat dan berdoa kepadaKu, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (Maksud Ghafir: 60)


Namun kadang-kadang ada orang yang merasakan doanya tidak diterima.
Apa sebabnya?


Ibrahim bin Adham pernah ditanya tentang kenapa kadang-kadang doa lambat diterima, pada hal Allah telah berjanji akan memakbul doa dan memerintahkan hamba-Nya berdoa?
Beliau menjawab:


Kerana hati kamu mati dengan 10 sebab:
1. Kamu mengenali Allah tetapi kamu tidak mentaati-Nya
2. Kamu mengenali Rasulullah tetapi kamu tidak mengikuti sunnahnya
3. Kamu mengenali al-Quran tetapi kamu tidak beramal dengan kandungannya
4. Kamu makan daripada ni’mat-ni’mat Allah tetapi kamu tidak bersyukur kepada-Nya
5. Kamu mengetahui tentang syurga tetapi kamu tidak mengejarnya
6. Kamu mengetahui tentang neraka tetapi kamu tidak lari darinya
7. Kamu kenal syaitan tetapi kamu tidak memeranginya, sebaliknya selalu bersetuju dengannya
8. Kamu mengetahui tentang mati tetapi kamu tidak bersedia untuk menghadapinya
9. Kamu kebumikan orang mati tetapi kamu tidak mengambil iktibar daripadanya
10. Kamu terbangun dari tidur, lalu kamu sibuk menghitung keaipan manusia dan kamu abaikan keaipan diri kamu sendiri.


Updates Via E-Mail

Terimakasih telah mengunjungi blog ini. Semoga semua ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Bermanfaat untuk Dunia dan Akhirat..

Jika ada saran dan masukannya atau ada yang ingin pembaca koreksi harap di kirim melalui page facebook kami

Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penyampaian kami di blog ini..

terimakasih